Selamat Datang

Terima Kasih anda berkunjung ke situs ini.

Anda kiranya mendapatkan hal yang bermanfaat dan diharapkan turut memiliki andil sehingga situs ini akan dapat bermanfaat bagi banyak orang khususnya sekawanua. Partisipasi anda berupa berita, informasi, koreksi, ide bahkan dana, kami sangat berterima kasih.

Dalam situs ini kami memberi informasi berbagai hal mengenai Minahasa baik tanah, orangnya maupun sejarah dan berbagai hal termasuk silsilah, organisasi, kegiatan masyarakat, dan tentunya hal ini belum sempurna, maafkan berbagai kekurangan, harapan kami anda dapat melengkapi kami dengan memberi masukkan berharga yang menjadi mutiara menghiasi dan memperkaya Minahasa, Sulawesi Utara bahkan Indonesia.

Saudara kalau ada berita, informasi, kesaksian, atau kisah keluarga family minahasa, mau dibagi kirim ke Email: yfcel.indonesia@gmail.com, di media InfoFam Minahasa. Kunjungi : www.infocomminahasa.blogspot.com





© 2010 | Buku Tamu | InfoCom Minahasa (ICM) | E-mail: famminahasa@gmail.com | Laporan Masalah/Saran
Bank MANDIRI Cabang Manado Dotu Lolong Lasut - No. Rekening: 050-00-0672572-3 - a.n. David Devi Steinly Lumoindong

Cari

Memuat...

Hikayat Minahasa

Hikayat Minahasa

Tanah Minahasa dulunya disebut Tanah Malesung teletak di Pulau Sulawesi bagian Utara pada posisi 0 derajat 55’ sampai 1 derajat - 55’ Lintang Utara, dan 124 derajat – 20” bujur timur. Luas tanah Minahasa sekitar 5.273 km persegi, termasuk didalamnya Kota Bitung, Kota Manado, Kota Kotamobagu dan Kota Tomohon. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kep. Sangihe-Talaud dan sebelah Selatan dengan Kabupaten Bolaang-Mangondouw, batas timur dengan laut Maluku, dan batas barat dengan Laut Sulawesi.


Sejarah Minahasa


Minahasa berasal dari kata "MINAESA" yang berarti persatuan, yang mana zaman dahulu Minahasa menggunakan nama "MALESUNG". Sedangkan nama Minaesa nanti popoler digunakan saat Minahasa menghadapi serangan musuh bersama khususnya saat kedatangan bangsa Eropah.

Menurut penyelidikan dari Wilken dan Graafland bahwa pemukiman nenek moyang orang Minahasa dahulunya di sekitar pegununggan Wulur Mahatus, kemudian berkembang dan berpindah ke Nieutakan (daerah sekitar tompaso baru saat ini).

Orang minahasa yang dikenal dengan keturunan Toar Lumimuut pada waktu itu dibagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu :

  • Makarua Siow : para pengatur Ibadah dan Adat
  • Makatelu Pitu : yang mengatur pemerintahan
  • Pasiowan Telu : Rakyat

Berdasarkan penyelidikan Dr. J.P.G. Riedel, sekitar tahun 670 di Minahasa telah terjadi suatu musyawarah di watu Pinawetengan yang dimaksud untuk menegakkan adat istiadat serta pembagian wilayah Minahasa. Pembagian wilayah minahasa tersebut dibagi dalam beberapa anak suku, yaitu:

  • Anak suku Tontewoh (Tonsea) : wilayahnya ke timur laut
  • Anak suku Tombulu : wilayahnya menuju utara
  • Anak suku Toulour : menuju timur (atep)
  • Anak suku Tompekawa : ke barat laut, menempati sebelah timur tombasian besar

Pada saat itu belum semua daratan minahasa ditempati, baru sampai di garisan Sungai Ranoyapo, Gunung Soputan, Gunung Kawatak, Sungai Rumbia. nanti setelah permulaan abad XV dengan semakin berkembangnya keturunan Toar Lumimuut, dan terjadinya perang dengan Bolaang Mongondow, maka penyebaran penduduk makin meluas keseluruh daerah minahasa. hal ini sejalan dengan perkembangan anak suku sepert anak suku Tonsea, Tombulu, Toulour, Tountemboan, Tonsawang, Ponosakan dan bantik.

Tumani Ratahan

Lensang Alu dari Pontak saudaranya bernama Watupinamalangan

Raliu dan Potangkuman

Pololangan

Watu Kulor

Ratu Moger

Raja Sanjang Pontak

Kerajaan Mongondow dimasa raja Mokodompis.

Woki

Touwuntu Watupinamalangan

Anak anak Raliu

Deen dan Kuhu serta dua saudari wanita Jahun dan Komaiking

Timpal Mandolang

Towohindan

Londok

Potangkal

Pejuang Eropah Penahluk Samudera

Pada tanggal 20 september 1519 di Bandar San Lucar, Kapal berbendera Spanyol bertolak meninggalkan pelabuhan di nahkodai Fernando da MagelHaens yang asal Portugis tapi karena usulnya untuk mengelilingi dunia tak disetujui raja portugis maka ia menyampaikan rencananya pada raja Spanyol, juru tulisnya ialah Antonio Pigafetta. Mereka berhasil mengarungi lautan Atlantik tiba di Benua Amerika, lewati Rio De Janeiro 1520. Kemudian mereka berlayar melintasi samudera pasific hingga tiba di Pilipina dan tiba di Cebu tahun 1521 ditempat inilah mereka dapat bertemu dengan para pelaut Cina dan India yang kemudian menginformasikan sumber rempah-rempah di Maluku, itu sebabnya mereka terus berlayar Magelhaenz meninggalkan dalam peperangan dengan pasukan pribumi. Mereka melewati kepulauan Sangihe Talaud pada tanggal 1 November 1521.

Pada tahun 1521 untuk pertama kali tiba di Ternate para pelaut yang hebat mengelilingi dunia. Dalam peta yang dibuat oleh juru mudi pada pelayaran pertama ditulis pada peta tersebut Minahasa sebagai pulau damar, dan juga mengahasilkan kayu cendana. Kemungkinan peta itu dipetik dari para pelaut Cina atau Jawa atau mereka juga sudah singgah di Sulawesi Utara. Dipimpin Colombus para pelaut luar biasa berani ini melintasi samudera tanpa tahu pasti mereka akan tiba dimana, tapi dengan satu harapan bahwa bumi bulat sehingga bisa tiba di sumber rempah-rempah komoditi perdagangan yang sangat mahal harganya di Eropah.

Rempah-rempah dimasa lalu telah menjadi komoditi dagangan yang sangat mahal dan terkenal, serta sangat dibutuhkan untuk berbagai macam keperluan, digunakan di Mesir, Israel, Palestina sekitar 1000 tahun sebelum Masehi.

lewat Minahasa untuk tiba di Ternate karena dizaman itu ternate telah terkenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah. Para pedagang pelaut dari Cina, Jawa, Pilipina, India sudah lama sebelumnya telah perdagang dan melewati jalur perdagangan ini, dari para pelaut inilah maka orang portugis mendapat informasi jalur perdagangan dan peta perjalanan. Dengan kata lain bahwa sudah ratusan tahun sebelumnya Minahasa dilewati dan disinggahi oleh para pedagang dari berbagai suku dan kerajaan. Salah satu Pelabuhan kuno Minahasa yang menjadi tempat persinggahan para pedagang internasional adalah Uwuran (Amurang /Minahasa Selatan). Bandar pelabuhan Amurang sudah terkenal sebelum orang Eropah tiba. Pada tahun 1360an armada perang Gajah Mada dari Majapahit tiba di Talaud dan Menjadikan ratu kerajaan Makata Raya sebagai Mitranya untuk mengawasi wilayah paling utara terhadap serangan kerajaan Mindanao (Pilipina), dan kerajaan Cina. Makatara kemudian disebut Uda Makataraya dan terkenal dengan istilah Payung Utara.

Bandar Pelabuhan Ternate telah menjadi Bandar Pusat perdagangan rempah-rempah, bahkan jauh sebelum eropah tiba. Pusat Perdagangan Besar dan kecil seperti di Sumatera: Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Melayu sekitar tahun 700 – 1000 Masehi, di Jawa : Kerajaan Mataram, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit sekitar tahun 400 – 1400 Masehi, di Kalimantan : Kerajaan Kutai sekitar tahun 500 – 1000 Masehi, di Maluku : Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore, Kerajaan Jailolo, Kerajaan Loloda, Kerajaan Tobelo, Kerajaan Ambon sekitar tahun 1000 – 1500 Masehi, di Sulawesi : Kerajaan Gowa Tallo, Kerajaan Bugis, Kerajaan Makataraya 1200 M Kerajaan Manado /Wawountewu (Babontehu sekitar 1300 di Manado tua), Kerajaan Bolaang Mongondow berdiri sekitar 1300M. di Utara ada Kerajaan Mangindano (Mindano), Kerajaan Sulu (Pilipina),di barat terdapat Kerajaan Brunei.

Jalur lintas hubungan dagang lewati perairan antara kerajaan ini sudah berlangsung sejak lama. Jadi jelaslah sekitar tahun 1360an perairan Minahasa telah menjadi jalur lintas perdagangan internasional yang sangat ramai dilewati kapal-kapal layar dari berbagai penjuru dunia. Sehingga Uwuran (Amurang) menjadi daerah strategis yang diincar para pedagang dan para Raja, baik Raja Bolaang Mongondow, Kerajaan Wawountewu / Manado (dipulau Manado tua disebut kerajaan Babontehu berdiri sekitar tahun 1300-1400 M atau Wawountewu) Kerajaan Siau berdiri sekitar tahun 1500, Kerajaan-kerajaan Sangihe dan Talaud sekitarnya.

Bandar Amurang menjadi ramai oleh perdagangan hal inilah yang menjadi perebutan berbagai kerajaan. Tempat ini telah dikuasai oleh kerajaan Bolaang Mongondow sekitar abad 14 M, bahkan para rajanya mendirikan tempat peristirahatan dipinggir pantai Amurang. Baik sejak zaman raja Damopolii yang disebut Kinalang sekitar tahun 1480-1510, ibu Damopolii adalah orang Tonsea. Damopolii atau di Tonsea disebut Ramopolii menikah pertamadengan Teteon gadis Tonsea kemudian menikah kedua dengan putri Tontemboan disebut Teteon Uwu Rande atau disebut juga Rintek Waang asal Amurang dengan menjadikan tanah di sungai Amurang (sekitar sungai Ranoiapo hingga sungai Poigar sebagai mas kawin. Damopolii diganti Busisi/Butiti, lalu anaknya bernama Makalalo bertahta menikah dengan Ganting-ganting dari Mandolang, ia diganti Mokodompit kemudian dilanjutkan Dodi Mokoagow, lalu diganti Tadohe. Tadohe diganti Putra bernama Loloda Mokoagow atau bergelar Datuk Binangkang.

Raja bernama Dodi Mokoagouw (Loloda Mokoagouw 1) sekitar tahun 1470-1490 dimasa pemerintahannya ia sering singgah di Minahasa sehingga kemudian ia mendapat laporan adanya seorang wanita yang sangat cantik di Minahasa. Karena penasaran dan ingin memilikinya maka ia datang meminang Pingkan Mogogunoi, tapi ternyata wanita ini sudah bersuami namanya Matindas. Karena ia ingin memaksakan kehendaknya, maka ia ditipu oleh Pingkan dengan mengganti pakaiannya disuruh berpakaian suaminya Matindas, sedangkan suaminya yang berpakaian raja memerintahkan prajuritnya untuk membunuh Loloda sang raja yang berpakaian Matindas, akhirnya raja Dodi Loloda Mokoagow 1 tewas ditangan prajuritnya, sejak itulah pecah perang Minahasa dan Bolaang Mongondow.

Perang ini berlanjut untuk memperebutkan tanah yang bagi Minahasa dianggap telah dihadiahkan oleh Raja Damopolii kepada Minahasa, tetapi bagi raja-raja Bolaang Mongondow selanjutnya ingin merebut kembali tanah ini. Apalagi para Raja Tonsawang (Tombatu), Raja Pasan Ponosakan (Ratahan dan Belang) masih tunduk pada pemerintahan raja diraja Bolaang Mongondow. Minahasa diluar Ratahan, Belang dan Tombatu tidak menggunakan system pemerintahan kerajaan, tetapi system pemerintahan republic (demokrasi) seorang pemimpin diangkat karena dipilih oleh suara terbanyak rakyat.

Pantai Alar (Aler) didesa Pondang menjadi tempat pertama kali orang Portugis berlabuh di Amurang.

Perang Minahasa Spanyol

Para pelaut awak kapal Spanyol berdiam di Minahasa dan bahkan membaur dengan masyarakat. Mereka menikah dengan wanita-wanita Minahasa, sehingga keturunan mereka menjadi bersaudara dengan warga pribumi.

Tahun 1643 pecah perang Minaesa Serikat melawan kerajaan Spanyol. dalam suatu peperangan di Tompaso, pasukan spanyol dibantu pasukan Raja Loloda Mokoagouw II dipukul kalah, mundur oleh gabungan pasukan serikat Minaesa, dikejar hingga dipantai tapi

oleh Residen V.O.C. Herman Jansz Steynkuler. Pada tahun 1694 bulan September tanggal 21, diadakanla

Tahun 1694 dalam suatu peperangan di Tompaso, pasukan Raja Loloda Mokoagouw II dipukul kalah, mundur oleh gabungan pasukan serikat Minaesa, dikejar hingga dipantai tapi dicegah dan ditengahi oleh Residen V.O.C. Herman Jansz Steynkuler. Pada tahun 1694 bulan September tanggal 21, diadakanlah kesepakatan damai, dan ditetapkan perbatasan Minahasa adalah sungai Poigar. Pasukan Serikat Minaesa yang berasal dari Tompaso menduduki Tompaso Baru, Rumoong menetap di Rumoong Bawah, Kawangkoan mendiami Kawangkoan bawah, dan lain sebagainya.


Ada kesalahan di dalam gadget ini

Manado

Kota Manado

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Kota Manado
Sulawesi 1rightarrow.png Sulawesi Utara
Lambang Kota Manado.


Lokasi Kota Manado di pulau Sulawesi.
Motto: Si Tou Timou Tumou Tou
Dasar hukum UU No. 18/1965
Walikota Jimmy Rimba Rogi
Wilayah 15,726 ha
Kecamatan 9
Kelurahan 87
Penduduk
-Kepadatan
417.586 (2000)
Koordinat 124°40' - 124°50' BT dan 1°30' - 1°40' LU
Kode telepon 0431

Situs web resmi: http://www.kotamanado.go.id

Kota Manado atau Menado adalah sebuah kota di provinsi Sulawesi Utara yang juga merupakan ibu kota dari provinsi tersebut. Letak Manado berada di ujung utara pulau Sulawesi. Motto kota ini adalah Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam Ratulangi, yang berarti: "Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain" atau "Orang hidup untuk menghidupkan orang lain". Dalam ungkapan bahasa Manado, seringkali dikatakan: "Baku beking pande", yang secara harafiah berarti "Saling menambah pintar [orang lain]".

Kota Manado dikelilingi oleh wilayah pegunungan dan oleh karena itu terkenal dengan udaranya yang sejuk. Manado juga berada di tepi pantai Laut Sulawesi persisnya di Teluk Manado. Pulau Bunaken terletak tidak jauh dari pantai Kota Manado. Penduduknya dikenal ramah dan terbuka.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Sejarah

Kota Manado diperkirakan telah didiami sejak abad ke-12. Menurut sejarah, pada abad itu jugalah Kota Manado telah dikenal dan didatangi oleh orang-orang dari luar negeri. Nama "Manado" mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama "Pogidon" atau "Wenang". Meneruskan Kata dari Kerajaan manado yang berpusat di pulau Manado tua.Kata Manado sendiri berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti "di jauh". Pada tahun itu juga, tanah Minahasa-Manado mulai dikenal dan populer di antara orang-orang Eropa dengan hasil buminya. Hal tersebut tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah.

Tahun 1658, VOC membuat sebuah benteng di Manado. Sejarah juga mencatat bahwa salah satu Pahlawan Nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ke Manado oleh pemerintah Belanda pada tahun 1830. Biologiwan Inggris Alfred Wallace juga pernah berkunjung ke Manado pada 1859 dan memuji keindahan kota ini.

Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919. Dengan besluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester). Pada tahun 1951, Gemeente Manado menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951, terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1957, Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959, Kotapraja Manado ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965, Kotapraja Manado berubah status menjadi Kotamadya Manado, yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, merupakan momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, dimana putra daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919, yaitu munculnya Besluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente dikeluarkan, dan tahun 1623 yang diambil dari unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi. Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka tanggal 14 Juli 1989, Kota Manado merayakan HUT-nya yang ke-367. Dan sejak saat itu hingga sekarang tanggal tersebut terus dirayakan oleh masyarakat dan pemerintah Kota Manado sebagai hari jadi Kota Manado.

Kota ini juga pernah mengalami kerusakan berat karena peperangan yaitu ketika pada masa Perang Dunia II, dan ketika dibom kembali oleh TNI Angkatan Udara pada 1958 dalam upaya mengalahkan Permesta, sebuah gerakan pemberontakan yang menghendaki pemisahan dari Republik Indonesia.

[sunting] Geografi

Foto Manado dari udara

Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada posisi geografis 124°40' - 124°50' BT dan 1°30' - 1°40' LU. Iklim di kota ini adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° - 27° C. Curah hujan rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar bulan Agustus dan terbasah pada bulan Januari. Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53% dan kelembaban nisbi ±84 %.

Luas wilayah daratan adalah 15.726 hektar. Manado juga merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya didominasi oleh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ketinggian dataran antara 0-40 % dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.

Wilayah perairan Kota Manado meliputi pulau Bunaken, pulau Siladen dan pulau Manado Tua. Pulau Bunaken dan Siladen memiliki topografi yang bergelombang dengan puncak setinggi 200 meter. Sedangkan pulau Manado Tua adalah pulau gunung dengan ketinggian ± 750 meter.

Sementara itu perairan teluk Manado memiliki kedalaman 2-5 meter di pesisir pantai sampai 2.000 meter pada garis batas pertemuan pesisir dasar lereng benua. Kedalaman ini menjadi semacam penghalang sehingga sampai saat ini intensitas kerusakan Taman Nasional Bunaken relatif rendah.

Kota Manado berbatasan dengan Kabupaten Minahasa dan Selat Mantehage di sebelah Utara, dengan Kabupaten Minahasa di sebelah Timur, dengan Kabupaten Minahasa di sebelah Selatan dan dengan Teluk Manado di sebelah Barat. Jarak dari kota Manado ke Tondano adalah 28 km, ke Bitung 45 km dan ke Amurang 58 km.

[sunting] Pemerintahan

No. Kecamatan Luas wilayah (hektar) Jumlah kelurahan
1. Bunaken 5.212,5 8
2. Malalayang 1.640 9
3. Mapanget 4.913,55 11
4. Sario 144,8 7
5. Singkil 587,13 9
6. Tikala 1.588,4 12
7. Tuminting 700,17 10
8. Wanea 659,95 9
9. Wenang 279,5 12

Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) nomor 4 tanggal 27 September 2000 tentang perubahan status desa menjadi kelurahan di kota Manado dan PERDA nomor 5 tanggal 27 September 2000 tentang pemekaran kecamatan dan kelurahan, wilayah kota Manado yang semula terdiri atas 5 kecamatan dengan 68 kelurahan/desa dimekarkan menjadi 9 kecamatan dengan 87 kelurahan. Tabel di samping adalah daftar kecamatan beserta luas dan jumlah kelurahannya:

[sunting] Budaya

Bahasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado dan wilayah sekitarnya disebut bahasa Melayu Manado. Bahasa daerah Manado menyerupai bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas. Beberapa kata dalam dialek Manado berasal dari bahasa Belanda dan bahasa Portugis karena daerah ini dahulunya merupakan wilayah penjajahan Belanda dan Portugis.

Penduduk di kota Manado terdiri dari berbagai latar belakang etnik maupun agamanya. Mayoritas penduduk berasal dari suku Minahasa, menyusul suku Sangihe Talaud, suku Bolaang Mongondow, suku Gorontalo dan suku Tionghoa. Selain itu terdapat pula penduduk suku Jawa, suku Batak, suku Arab, suku Maluku, suku Makassar dan sebagainya. Agama yang dianut adalah Kristen Protestan, Islam, Katolik, Budha dan Hindu. Mayoritas penduduk kota adalah pemeluk agama Kristen atau Katolik. Hal itu jelas dapat dilihat dari banyaknya gereja-gereja di seantero kota. Meski begitu heteroginnya, namun masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia. Sewaktu Indonesia sedang rawan-rawannya dikarenakan goncangan politik sekitar tahun 1999 dan berbagai kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaitu Torang samua basudara yang artinya "Kita semua bersaudara".

Secara umum, kehidupan di Kota Manado sama dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pusat kota terdapat di Jalan Sam Ratulangi, yang banyak dibangun pusat-puast pembelanjaan yang terletak di sepanjang jalur utara-selatan, yang juga dikenal dengan tempat yang memiliki restoran-restoran terkenal di Manado. Akhir-akhir ini Manado terkenal dengan makin menjamurnya mal-mal dan restoran-restoran yang dibangun di sepanjang pantai yang memanfaatkan pemandangannya yang indah di saat menjelangnya matahari terbenam.

Tidak jauh dari pusat kota terdapat Pasar 45, yang menyediakan barang-barang berupa kain, souvenir seperti keranjang, ukiran kayu, cross-stitched fabrics yang berasal dari pulau Sangir dan Talaud. Pasar ikan Kuala Jengki, berada di depan sepanjang danau yang membagi dua kota, merupakan tempat yang bagus untuk mengambil foto bernuansa atmosfer. Musium Provinsi di Jalan Maengket memiliki koleksi artifak-artifak yang menarik. Kota Manado juga memiliki sebuah lokasi untuk balapan kuda yang terletak di Ranomuut Race Track, di sebelah timur kota, menuju ke bawah kota. Tempat ini biasanya digunakan untuk balap kuda, kereta kuda/bendi dan kereta yang ditarik dengan kerbau. Kota Manado juga memiliki lapangan golf di daerah Kayuwatu yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa.

Musik tradisional dari Kota Manado dan sekitarnya dikenal dengan nama musik Kolintang. Alat musik Kolintang dibuat dari sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada-nada yang berbeda. Biasanya untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan sejumlah alat musik kolintang untuk menghasilkan kombinasi suara yang bagus.

[sunting] Kawanua

Masyarakat Manado juga disebut dengan istilah "warga Kawanua". Walaupun secara khusus Kawanua diartikan kepada suku Minahasa, tetapi secara umum penduduk Manado dapat disebut juga sebagai warga Kawanua. Dalam bahasa daerah Minahasa, "Kawanua" sering diartikan sebagai penduduk negeri atau "wanua-wanua" yang bersatu atau "Mina-Esa" (Orang Minahasa). Kata "Kawanua" diyakini berasal dari kata "Wanua". Kata "Wanua" dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu), diartikan sebagai wilayah pemukiman. Sementara dalam bahasa Minahasa, kata "Wanua" diartikan sebagai negeri atau desa.

[sunting] Pariwisata

Turis sedang mengendarai jetski dengan latar belakang pulau Manado Tua di lepas pantai kota Manado
Pantai di kota Manado

Sebagai kota terbesar di wilayah ini, Manado merupakan tempat pariwisata yang penting bagi pengunjung. Ekowisata merupakan atraksi terbesar Manado. Selam Scuba dan snorkelling di pulau Bunaken juga merupakan atraksi populer. Tempat lain yang menarik adalah Danau Tondano, Gunung Lokon, Gunung Klabat dan Gunung Mahawu.

Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Taman Laut Bunaken adalah salah satu dari sejumlah kawasan konservasi alam atau taman nasional di Indonesia. Taman Laut Bunaken terkenal oleh formasi terumbu karangnya yang luas dan indah sehingga sering dijadikan lokasi penyelaman oleh turis-turis mancanegara. Pulau Bunaken adalah salah satu dari 5 pulau yang tersebar beberapa kilometer dari pesisir pantai Kota Manado. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar setengah sampai 2 jam, menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi.

Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado adalah Kelenteng Ban Hin Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad ke-19 dan diperbaiki pada tahun 1970. Klenteng ini terletak di Jalan Panjaitan. Klenteng ini terdiri dari bangunan yang dihiasi dengan ukiran-ukiran naga dan tongkat kayu berapi. Saat yang paling baik untuk mengunjungi klenteng ini yaitu pada saat Tahun Baru Imlek, saat dipertunjukkannya tarian tradisional Tionghoa. Juga pada saat kedatangan parade tradisional Tionghoa, Tai Pei Kong, yang berasal dari abad ke-14. Peristiwa tersebut merupakan festival "Taoist" tahunan terbesar yang diadakan di Asia Tenggara, sehingga menarik pelancong dari Jepang dan negara lain. Lokasi wisata lainnya juga adalah Museum Negeri Sulawesi Utara, dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.

Sebuah monumen yang diresmikan pada akhir tahun 2007 dan menjadi ikon baru kota Manado adalah Monumen Yesus Memberkati. Bangunan ini didirikan di atas bukit di perumahan Citraland Manado dan memiliki ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Bangunan yang diprakarsai oleh Ir. Ciputra ini merupakan monumen Yesus Kristus yang tertinggi di Asia dan ke dua di dunia setelah Christ the Redeemer.

Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland, khususnya di Minahasa, yang dapat dijangkau dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Waruga di Sawangan.

Karena potensi wisata yang besar tersebut maka industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang, yang antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah biro perjalanan, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.

Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis ekonomi dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota Manado tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah 34.509 orang, menjadi 11.538 orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada tahun 2001 menjadi 12.301 orang. Sedangkan wisatawan Nusantara pada tahun 1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang.

[sunting] World Ocean Conference 2009

Manado akan menjadi tuan rumah (host) World Ocean Conference (WOC) 2009. Acara yang akan dihadiri oleh delegasi negara-negara dari seluruh dunia ini akan membahas mengenai isu-isu penting dalam dunia kelautan dan maritim internasional. Dalam rangka persiapan untuk melaksanakan event internasional tersebut, beberapa infrastruktur di kota Manado sedang dalam tahap pembangunan dan pengembangan. Beberapa diantaranya adalah perluasan apron Bandara Sam Ratulangi, pembangunan Hotel dan International Convention Center berkapasitas 3000 orang di kawasan Grand Kawanua International City, Fly over Soekarno, dan Pembangunan Manado Ring Road tahap II.

[sunting] Manado Kota Pariwisata Dunia 2010

Untuk meningkatkan potensi pariwisata Manado, Jimmy Rimba Rogi sebagai Walikota periode 2005 - 2010, (2009 ia digantikan oleh Abdi Buhari, kemudian digantikan oleh Gubernur sekaligus sebagai Pjs Walikota 2009-2010) mencanangkan Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia 2010, pencanangan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan potensi pariwisata di Kota Manado sehingga dapat diperhitungkan sebagai tujuan wisata dunia kelak. Beberapa kebijakannya yang paling dikenal adalah dengan melakukan relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang telah lama berdagang di daerah Taman Parkir ke Pasar 45, perbaikan taman-taman kota dan perluasan trotoar untuk pejalan kaki. Upaya yang dilakukannya sangat berkontribusi dalam hal diraihnya kembali penghargaan Adipura untuk kota Manado di tahun 2007.

[sunting] Pusat Perbelanjaan dan Hiburan

Mega Mal Manado
Manado Town Square

Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di seputar Taman Kesatuan Bangsa (TKB). Seiring dengan pertumbuhan ekonomi kota Manado, dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Ditandai dengan dibukanya empat buah pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mal Manado (2004), Manado Town Square dan Bulevar Mall (2006) serta yang baru saja diresmikan adalah IT Center Manado. Keempat pusat perbelanjaan ini berlokasi di ruas jalan yang sama yaitu jalan Piere Tendean atau yang lebih dikenal dengan Manado Boulevard. Beberapa pusat perbelanjaan lain pun sedang dibangun di ruas jalan ini, terutama di daerah reklamasi pantai. Di sepanjang jalan ini juga terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata khas manado dapat ditemukan di Jalan BW Lapian. Terdapat beberapa toko suvenir yang menjual makanan, busana, kerajinan tangan khas manado/ sulawesi utara.

[sunting] Makanan khas

Makanan khas dari Kota Manado antara lain, tinutuan (bubur Manado) yang terdiri dari berbagai macam sayuran, cakalang fufu yaitu ikan cakalang yang diasapi, ikan roa, paniki (masakan dari kelelawar) dan rw (er-we) yaitu masakan dari daging anjing, Babi putar (1 ekor babi dibakar dengan cara diputar di atas bara api), biasanya dihidangkan di pesta-pesta, Babi isi Bulu (Terbuat dari daging babi yang diramu dengan bumbu-bumbu khas manado dan dibakar didalam bambu). Terdapat juga minuman khas dari daerah Manado dan sekitarnya yaitu "saguer" yaitu sejenis arak atau tuak yang berasal dari pohon enau. Saguer ini memiliki kandungan alkohol, Cap tikus (minuman beralkohol tinggi, dari proses fermentasi).

Makanan khas kota Manado lainnya yang juga cukup terkenal adalah nasi kuning yang cita rasa dan penyajiannya berbeda dengan nasi kuning di daerah lain. Selain itu ada juga masakan kepala ikan kakap bakar. Dabu-dabu adalah sambal khas Manado yang sangat populer, dibuat dari campuran potongan cabe merah, cabe rawit, irisan bawang merah dan tomat segar yang dipotong dadu dan terakhir diberi campuran kecap.

Untuk makanan ringan, Manado juga punya makanan khas sejenis asinan yaitu gohu dan es kacang. Gohu dibuat dari irisan pepaya atau ketimun yang direndam dalam larutan asam cuka, gula, garam dan cabe. Selain itu ada juga kue seperti lalampa (lemper berisi ikan cakalang (tuna) yang diisi dalam segumpalan beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang lalu dibakar), panada, apang, kolombeng, panekuk, biapong (babi, wijen, "unti" (terbuat dari kelapa)).

[sunting] Ekonomi

Daftar Walikota
No. Nama Walikota Dari Sampai
1. E.R.Warouw 1 November 1947 30 September 1950
2. Ny. Tiene Waworuntu 30 September 1950 29 Maret 1951
3. H.R.Ticoalu 29 Maret 1951 1 Maret 1952
4. B.J.Lapian 1 Maret 1952 1 September 1953
5. J.Parera 1 September 1953 1 Mei 1955
6. J.I.Permata 1 Mei 1955 23 September 1958
7. J.P.Mongula 29 September 1958 1 Maret 1960
8. F.Walandow 1 Maret 1960 15 Juni 1965
9. Soepani B.A 15 Juni 1965 20 Oktober 1966
10. Letkol Hi Rauf Mo'o 20 Oktober 1966 12 Maret 1971
11. M.H.W Dotulong 12 Maret 1971 19 April 1971
12. J.H.Pusung 19 April 1971 31 Januari 1975
13. Hein Victor Worang 31 Januari 1975 23 Agustus 1975
14. A.A.Pelealu 23 Agustus 1975 23 Agustus 1985
15. Ir. Najoan Habel Eman 23 Agustus 1985 23 Agustus 1995
16. Ir. Lucky H. Korah 23 Agustus 1995 23 Agustus 2000
17. Drs. Wempi Frederik 23 Agustus 2000 15 Agustus 2005
18. Jimmy Rimba Rogi S.Sos 15 Agustus 2005 sekarang

Sebagian besar penduduk Kota Manado bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), guru atau pegawai swasta (41,44%), sebagai wiraswasta (20,57%), pedagang (12,85%), petani/peternak/nelayan (9,17%), buruh (8,96%). Sisanya bergerak di sektor jasa dan lain-lain (7%).

Angka Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) Kota Manado tahun 2000 adalah Rp. 2,14 trilyun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka tahun 1994 yang berjumlah Rp. 703,87 milyar. Tingkat pertumbuhan yang dicapai dalam kurun waktu tersebut rata-rata 6,11% per tahun. Pada tahun 1994 sampai 1996 angka pertumbuhan berada di atas 10% kemudian melambat menjadi 2,92% pada tahun 1997 dan 0,32% ditahun 1998 dimana merupakan angka terendah. Pada tahun 1999, pertumbuhan meningkat lagi menjadi 1,60% dan ditahun 2000 menjadi 5,62 %.

Sejak munculnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997, perekonomian kota Manado sangat terpengaruh. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya angka pengangguran yang diperkirakan pada tahun 2000 masih sebesar 20.465 orang atau 13.67% dan meningkatnya jumlah keluarga miskin sebanyak 19.754 Kepala Keluarga (KK) atau 24,60%. Pada tahun 1999, terdapat indikasi adanya pemulihan perekonomian kota yang signifikan. Pendapatan perkapita kota Manado naik dari Rp 1.753.482 pada tahun 1994 menjadi Rp 4.452.672 pada tahun 2000.

Perekonomian kota Manado khususnya terdiri dari sektor perdagangan, perhotelan dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sector jasa. Pada tahun 1996 peran ketiga sektor utama ini dalam pembentukan PDRB adalah sejumlah 68,74%. Dalam kurun waktu 5 tahun, peran ketiga sektor ini cenderung semakin dominan, yang dilihat dari kontribusinya pada tahun 2000 yang meningkat menjadi 74,68%. Laju inflasi kota Manado selama kurun waktu dua tahun terakhir (2000-2001) sangat berfluktuatif. Pada tahun 2000 sempat mengalami deflasi sebanyak lima kali yaitu masing-masing pada bulan Januari sebesar –0,25%, April –0,08%, Mei -0,13%, Agustus -0,85% dan Desember -0,16%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi pada bulan pada bulan Oktober yaitu sebesar 4,05%. Sehingga secara kumulatif inflasi yang terjadi di Manado sebesar 11,41%. Pada tahun 2001 terjadi deflasi sebanyak 3 kali yaitu pada bulan Februari sebesar –0,56%, Agustus -0,23% dan Desember sebesar –0,26%. Sedangkan inflasi tertinggi pada tahun 2001 terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 2.83% dimana secara kumulatif inflasi pada tahun 2001 mencapai 13,30.%

[sunting] Transportasi

[sunting] Udara

Bandara Udara Internasional Sam Ratulangi

Kota Manado melalui bandar udaranya, Sam Ratulangi terhubung dengan beberapa kota besar lain di Indonesia seperti, Jakarta, Surabaya, Makassar dan Balikpapan. Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan langsung dari dan ke luar negeri yaitu Singapura, Kuala Lumpur (mulai 12 September 2008)[1] dan Davao, Filipina. Bandara yang mengalami renovasi di tahun 2001 ini merupakan salah satu dari 11 pintu gerbang utama pariwisata di Indonesia. Dengan panjang landas pacu sepanjang 2650 m dan lebar 45 m, bandara ini sanggup untuk didarati pesawat berbadan lebar sejenis Boeing 777-200 dan Airbus A330. Terminal penumpangnya memiliki fasilitas penunjang berstandar internasional dan dilengkapi dengan tiga buah garbarata.

[sunting] Laut

Dermaga di Manado umumnya dilayani oleh kapal-kapal berukuran kecil. Hal ini dikarenakan lokasi perairan Manado yang berdekatan dengan lokasi Taman Laut Bunaken yang dilindungi dan juga perairan yang cukup dangkal. Pada umumnya, kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Manado adalah kapal dengan tujuan Kepulauan Sangir dan Kepulauan Talaud. Speed boat dari dan menuju Bunaken umumnya berlabuh di dermaga ini. Kapal-kapal berukuran besar milik PT Pelni berlabuh di kota Bitung, berjarak kurang lebih 40 km sebelah barat Manado.

[sunting] Darat

Sistem transportasi darat Kota Manado dilayani oleh minibus angkutan kota yang biasa disebut mikrolet, taksi argo dan Bus DAMRI. Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh mikrolet yang menghubungkan beberapa terminal bus dalam maupun luar kota dengan pusat kota Manado. Mikrolet umumnya beroperasi hingga pukul 21.00 wita (hari kerja) atau pukul 22.00 wita (akhir pekan). Taksi umumnya melayani rute-rute ke luar kota sedangkan Bus DAMRI melayani rute Bandara - Terminal Bus luar kota di Malalayang.

[sunting] Media

[sunting] Media Cetak

Saat ini di Manado terdapat beberapa surat kabar lokal antara harian pagi Manado Post, Harian Komentar, Tribun Sulut, Tribun Manado, Posko, Metro, SKH. Swara Kita, dan Koran Manado.

[sunting] Radio dan Televisi

[sunting] Radio

Beberapa tahun belakangan jaringan radio nasional juga membuka cabang di kota manado seperti Delta FM, Trijaya FM, Smart FM dan Cosmofemale FM, di samping radio-radio lokal yang sudah lama melakukan penyiaran di kota ini seperti Memora, ROM2 dan KDFM.

[sunting] Televisi

Selain TVRI Stasiun Manado, terdapat beberapa TV swasta lokal yang beroperasi di Manado yaitu Pacific TV dan GOTN (Gospel Overseas Television Network). Dua TV lokal lainnya yaitu Televisi Manado dan Bunaken TV sempat mengudara untuk beberapa waktu, akan tetapi karena kesulitan memperoleh pembiayaan melalui iklan, kedua TV tersebut tidak lagi mengudara. Semua TV swasta nasional memiliki menara relay di Manado yaitu RCTI, SCTV, Metro TV, Indosiar, Trans TV, Trans 7, TV One, Global TV, TPI dan anteve.

[sunting] TV Kabel/Satelit

Indovision dan Astro

[sunting] Bencana

Bencana banjir dan tanah longsor di Manado

Kota Manado pada tanggal 21 Februari 2006 dilanda bencana banjir dan tanah longsor yang hebat. Sebelumnya banjir dan tanah longsor juga menyapu sebagian besar wilayah Manado pada tanggal 13 Februari dan 19 Februari. Pada tanggal 13 Februari, bencana banjir dan longsor di Manado, Minahasa, dan Minahasa Selatan menyapu ratusan rumah, merusak ratusan hektar tanaman, menghanyutkan puluhan ternak, dan menewaskan 7 orang. Total kerugian ditaksir lebih dari Rp 95 miliar. Bencana kembali melanda hari Minggu tanggal 19, menyapu sebagian wilayah Tuminting, Mahawu, Kombos, Perkamil, dan Teling Manado. Korban tewas mencapai 5 orang, luka parah 6 orang, dan ratusan rumah rusak parah. Selasa (21/2), banjir dan longsor lagi-lagi menyapu sebagian besar wilayah Manado. Korban tewas, sebagaimana dilaporkan hingga pukul 00.00 WITA sudah mencapai 19 orang. Ratusan rumah rusak ringan hingga berat, dan kerugian ditaksir lebih dari Rp 182 Miliar. Jika ditotal dengan korban jiwa dari Tombariri dan korban jiwa Senin (19/2), jumlah keseluruhan korban sudah mencapai 31 orang. Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang mengatakan bahwa banjir dan longsor beruntun kali ini merupakan akumulasi akibat ulah manusia sendiri antara lain penggundulan hutan, penipisan daerah aliran sungai (DAS) dan kualitas lingkungan yang menurun.

[sunting] Trivia

  • Tahukah Anda bahwa sebuah spesies baru dari ikan Coelacanth yang ditemukan oleh Arnaz dan Mark Erdmann diberi nama Latimeria menadoensis. Ikan yang oleh masyarakat lokal dinamai raja laut ditemukan di perairan pulau Manado Tua.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Pranala luar

[sunting] Rujukan

Sabtu, 08 Mei 2010

Senin, 30 November 2009

Info family

INFO FAMILY, memberi informasi keluarga, silsilah dsb.

Sejarah Minahasa

Sejarah Minahasa

Sejarah Garis Waktu

Disusun oleh: Roderick C. Wahr

Tiupan Benua
Tiupan Benua
(4 juta tahun SM)
Indonesia sudah ada sejak masa Pleistocene ketika dihubungkan dengan daratan Asia sekarang.

500.000 SM
Manusia Java (Homo Erectus) ditemukan di Jawa Timur.

Penduduk kepulauan Indonesia sebelumnya berasal dari India atau Burma.

3000 SM
Migrant (orang Malayu) datang dari Cina Selatan dan Indocina, dan mereka mulai mendiami kepulauan.

Batu di Watu Pinawetengan
Batu di
Watu Pinawetengan
670
Sulawesi Utara tidak pernah membangun kekaisaran besar.
Di Sulawesi Utara pemimpin-pemimpin dari suku-suku yang berbeda, yang sama sekali bebicara bahasa yang berbeda, bertemu di batu yang dikenal sebagai Watu Pinawetengan. Disana mereka mendirikan perhimpunan negara yang merdeka, yang akan membentuk satu kesatuan dan tinggal bersama dan akan memerangi musuh manapun dari luar jika mereka diserang.

800
Kekaisaran Budha Sriwijaya dan Kerajaan Hindu Mataram muncul di Jawa dan Sumatra.

900
Keberadaan peradaban kuno di Sulawesi Utara bisa jadi berasal dari adanya batu pertama sarcophagi yang disebut Waruga.

1200
Pedagang Muslim dari Gujarat dan Persia mulai mengunjungi Indonesia dan mendirikan hubungan perdagangan antara negara ini dan India dan Persia.
Sepanjang perdagangan, mereka menyebarkan agama Islam diantara orang Indonesia, terutama sepanjang daerah pantai Jawa, seperti Demak.

1292
Kaisar Cina memberangkatkan banyak espedisi barang rongsokan ke Malaka, Jawa dan Maluku pada tahun 1292 - 1293. Ekspedisi Cina tersebut dilakukan untuk berperang atau untuk maksud berdagang. Ketika berdagang, kapal layar barang rongsokan ini membawa porselen keramik ke Minahasa. Mereka membawa keramik-keramik tersebut untuk ditukarkan dengan beras.

Waruga
Waruga
1293
Permulaan Kerajaan Majapahit.

1335
Sekarang pemimpin-pemimpin penting dari suku Minahasa dikubur di sarcophagi, nisan yang berdiri, yang dinamakan Waruga.

1380
Jalur perdagangan Cina diikuti oleh pedagang-pedagand dari Arab. Salah seorang pedagang dari Arab, Sharif Makdon, pada tahun 1380, melakukan perdagangan dari Ternate, Wenang (sekarang Manado) dan lalu ke Philipina Selatan. Selain berdagang, pedagang-pedagang dari Arab ini melakukan penyebaran agama Islam di antara suku Manarouw Mangindanouw.

Fam.Marga Minahasa

Marga Minahasa

Langsung ke: navigasi, cari

Marga Minahasa merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai di belakang nama depan masyarakat Minahasa/Manado. Di Indonesia Timur nama marga biasa juga disebut fam, yang menunjukkan pengaruh dari bahasa Belanda, familienaam yang berarti "nama keluarga".

Marga Minahasa diambil dari nama keluarga yang digunakan oleh kepala rumah tangga (orang tua lelaki), dengan demikian umumnya nama anak dari sebuah keluarga akan ditambahkan nama keluarga sang ayah di belakangnya. Bila seorang perempuan menikah, nama keluarga sang suaminya disisipkan di antara nama depan dan nama keluarga asli perempuan tersebut. Praktik ini menunjukkan pengaruh budaya Spanyol dan Portugis yang masih tersisa di Minahasa. Keluarga itu akan menggunakan kedua marga tersebut sebagai nama resminya. Jadi, misalnya seorang laki-laki yang bermarga "Assa" menikah dengan seorang perempuan yang bermarga "Damongilala", maka keluarga itu disebut "Keluarga Assa-Damongilala", meskipun anak-anak mereka kelak hanya akan menggunakan nama "Assa" saja sebagai marga mereka.

Daftar di bawah ini memuat beberapa marga Minahasa. Anda dapat melengkapinya.

Marga Minahasa

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

[sunting] A

Abutan - Adam - Agou - Akai - Aling - Alow - Alui - Amoi - Ampow - Andinata - Andu - Anes - Angkouw - Angow - Anis - Antou - Arina - Awondatu - Awui (atau Awuy) - Assa - Aruperes - Agow - Atuy

[sunting] B

Badar - Bangkang - Batas - Bella - Bokong - Bolang - Bolung - Bokau - Bororing - Botu - Boyoh - Buyung - Belung - Botto - Besauw

[sunting] C

Canon - Coloay - Cornelez - Cussoy (Lihat "Kusoi")

[sunting] D

Damongilala - Damopoli - Damopoli'i - Danes - Dapu - Datu - Datumbanua - Dayoh - Dededaka - Deeng - Dendeng - Dengah - Dewat - Dien - Dimpudus - Dipan - Dirk - Dissa - Dodu - Dollo - Dompis - Dompas - Dompasa - Dondo - Dondokambey - Donsu - Doodoh - Doringin - Dotulong - Dumais - Dumanauw - Dumbi - Dungus - Durand - Dusaw - Dompas

[sunting] E

Egam - Egetan - Ekel - Elean - Eman - Emon - Emor - Endei - Engka - Engelen - Enoch - Ering - Erungan

[sunting] G

Gerungan - Goni - Goniwala - Gonta - Gontung - Gosal - Gumalag - Gumansalangi - Gumansing - Gumion - Gundong

[sunting] H

Hermanus

[sunting] I

Ilat - Imbar - Inarai/Inaray - Ingkiriwang - Inolatan - Intama - Item - Iroth -

[sunting] J

Jakob - Joseph

[sunting] K

Kaat - Kaawoan - Kaendo - Kaeng - Kaes - Kainde - Kairupan - Kalalo - Kalangi - Kalempou - Kalempouw - Kalengkongan - Kalesaran - Kalici - Kaligis - Kalitow - Kaloh - Kalonta - Kalumata - Kamagi - Kambey - Kambong - Kandio - Kandou - Kanter - Kandow - Kapahang - Kapantouw - Kaparang - Kapele - Kapero - Kapoh - Kapoyos - Kapugu - Karamoy - Karau - Karinda - Karisoh - Karundeng - Karuntu - Karuyan - Karwur - Kasenda - Katopo - Katuuk - Kaumpungan - Kaunang - Kawatu - Kawengian - Kawilarang - Kawohan - Kawulusan - Kawung - Kawuwung - Keincem - Keintjem - Kekung - Kelah - Keles - Kelung - Kembal - Kembau - Kembuan - Kemur - Kenap - Kepel - Keraf - Kereh - Kesek - Kewas - Khodong - Kilapong - Kimbal - Kindangen - Kirangen - Kiroh - Kiroiyan - Koapaha - Kodongan - Kodoatie - Koessoy - Kojongian - Koleangan - Kolibu - Kolinug - Kolompoy - Kolondam - Kolonio - Koly - Komalig - Komansilan - Kombaitan - Komimbin - Kondoi - Kontu - Kontul - Kopalit - Kopitoy - Koraah - Korah - Korengkeng - Korinus - Korompis - Koropitan - Korouw - Korua - Kotambunan - Kountud - Kourow - Kowaas - Kowonbon - Kowu - Kowulur - Koyansouw - Kuhu - Kulit - Kullit - Kumaat - Kumaunang - Kumayas - Kumendong - Kumolontang - Kumontoy - Kupon - Kusen - Kusoi - Karaeng - Komambong - Kukus - Kaseger

[sunting] L

Lala - Lalamentik - Laloan - Lalowang - Laloh - Lalu - Lalujan - Lambogia - Lampah - Lampus - Lanes - Langelo - Langelo - Langi - Langkai - Languyu - Lantang - Lantu - Laoh - Lapian - Lapong - Lasut - Lefrandt Legi - Legoh - Lembong - Lempash - Lempou - Lempoy - Lengkey - Lendeng - Lengkoan - Lengkong - Lensun - Leong - Lepar - Lesar - Lewu - Liando - Limbat - Limbong - Loindong - Lomboto - Limpele - Lincewas - Lintang - Lintong - Liogu - Litow - Liow - Liu - Liwe - Loing - Lolo - Loloang - Lolombulan - Lolong - Lolowang - Lomboan - Lompoliu - Lonan - Londa - Londok - Longdong - Long Dong - Londong - Lonta - Lontaan - Lontah - Lontoh - Losung - Lotulung - Lowai - Lowing - Ludong - Lumanau - Lumangkun - Lumantow - Lumatau - Lumempouw - Lumenta - Lumentut - Lumi - Lumingas - Lumingkewas - Lumintang - Luminuut - Lumoindong - Lumondong - Lumongdong - Lumowa - Lumunon - Luntungan - Lutulung - Lakoy

[sunting] M

Macawalang - Magonta -Maengkom - Maengkong - Makaampoh - Maidangkay - Mailangkay - Mailoor - Maindoka - Mainsouw - Mait - Makadada - Makal - Makalew - Makaliwe - Makangares - Makaoron - Makarawis - Makarawung - Makatuuk - Makawalang - Makawulur - Makiolol - Makisanti - Maleke - Malingkas - Maliangkay - Malonda - Mamahit - Mamangkey - Mamantouw - Mamanua - Mamarimbing - Mamba - Mambo - Mambu - Mamengko - Mamentu - Mamesah - Mamitoho - Mamoto - Mamuaya - Mamuntu - Mamusung - Manampiring - Manangkod - Manapa - Manarisip - Manaroinsong - Manayang - Mandagi - Mandang - Mandey - Manese - Manengkei - Mangare - Mangempis - Mangindaan - Mangkey - Mangowal - Mangundap - Manimporok - Maningkas - Manopo - Manorek - Mantik - Mantiri - Mantoauw - Manua - Manueke - Manurip - Manus - Mapaliey - Maramis - Marentek - Maringka - Masael - Masinambau - Masing - Masiruw - Masoko - Massie - Matheos - Matindas - Maukar - Mawei - Maweru - Mawikere - Mawicere - Mawuntu - Mekel - Mema - Mende - Mendur - Mengko - Mentang - Mentu - Meray - Mesak - Mewengkang - Mewoh - Midas - Mince - Mincelungan - Minder - Mingkid - Mioyo - Mogigir - Mogot - Mokalu - Momongan - Momor - Momuat - Monangin - Mondigir - Mondong - Mondoringin - Mondou - Mogi - Mongi - Mongilala - Mongisidi - Mongkaren - Mongkau - Mongkol - Mongula - Moniaga - Moninca - Moningka - Moningkey - Moniung - Moniyong Mononimbar - Mononutu - Montolalu - Montong - Montung - Morong - Motto - Muaja - Muaya - Mudeng - Muke - Mukuan - Mumek - Mumu - Munaiseche - Mundung - Muntu - Muntuan - Muntuuntu - Musak - Mussu - Mogonta - Mawey

[sunting] N

Nangka - Nangon - Nangoy - Naray - Nayoan - Nelwan - Nender - Ngala - Ngangi - Ngantung - Ngayouw - Ngenget - Ngion - None

[sunting] O

Ogi - Ogot - Ogotan - Oleng - Oley - Ombeng - Ombu - Ompi - Ondang - Onibala - Onsu - Opit - Orah - Oroh - Otay -

[sunting] P

Paat - Pai - Paila - Pajow - Pakasi - Palangiten - Palar - Palenewen - Palenteng - Palilingan - Palit - Pamaruntuan - Panambunan - Panda - Pandean - Pandeiroth - Pandelaki - Pandey - Pandi - Pandong - Pangalila - Pangkahila - Pangau - Pangemanan - Pangila - Pangkerego - Pangkey - Pangkong- Pantonuwu - Pantouw - Pantow - Parapak - Parengkuan - Parera- Paruntu - Paseki - Pasla - Pateh - Pauner - Paulus - Peleh - Pelenkahu - Pelengkahu - Pelleng - Pendang - Pepah - Pesik - Pesot - Piay - Pinangkaan - Pinantik - Pinaria - Pinontoan - Pioh - Piri - Pitong - Pitoy - Podung - Pola - Poli - Polii - Polimpong - Politon - Poluakan - Pomantouw - Pomantow - Pomohon - Ponamon - Pondaag - Pondaaga - Pongayouw - Ponggawa - Pongilatan - Pongoh - Ponosingon - Pontoan - Pontoan - Ponto - Pontoh - Pontororing - Porayow - Poraweouw - Porayouw - Porayow - Porong - Posumah - Potu - Poyouw - Pratasik - Pua - Pungus - Punuh - Purasa - Purukan - Pusung - Putong - Putang

[sunting] R

Raintung - Rakian - Rambi - Rambing - Rambitan - Rampangilei - Rampen - Rampengan - Rampi - Ransun - Ranti - Rantung - Raranta - Rares - Rarun - Rasu - Ratag - Rattu - Ratulangi - Ratumbuisang - Raturandang - Ratuwalangaouw - Ratuwalangon - Ratuwandang - Rau - Ruata - Rawung - Regar - Rei - Rembang - Rembet - Rempas - Rende - Rengku - Rengkuan - Rengkung - Repi - Retor - Rimper - Rindengan - Rindo-rindo - Robot - Roeroe - Rogahang - Rogi - Rolangon - Rolos - Rombang – Rombot - Rompas - Rompis - Rondo - Rondonuwu - Rooro - Rori - Roringkon - Rorie - Rorimpandey atau Roringpandey - Roring - Rorintulus - Rorong - Rory - Rosok - Rotikan - Rotinsulu - Rotty - Roway - Ruaw - Ruidengan - Rumagit - Rumambi - Rumampen - Rumampuk - Rumangkang - Rumangun -Rumansi - Rumayar - Rumbay - Rumbayan - Rumende - Rumengan - Rumenser - Rumimpunu - Rumincap - Rumokoy - Rumondor - Rumpesak - Rungkat - Runtu - Runtukahu - Runturambi - Runtuwailan - Runtuwene - Runtuwarouw - Ruru - Rurugala - Regoh

[sunting] S

Sabar - Saerang - Sahelangi - Sahensolar - Sakul - Salangka - Salem - Salendu - Sambouw - Sambow - Sambuaga - Sambul - Sambur - Samola - Sampouw - Sangari - Sanger - Sangeroki - Sangkaeng - Sangkoy - Sangkal - Sarapung - Saraun - Sarayar - Sariowan - Sarundayang - Saul - Saweho - Seke - Seko - Sembel - Sembung - Semeke - Senduk - Sendow - Senewe - Sengke - Sengkey - Senouw - Sepang - Sethaan - Setlight - Sewow - Sigar - Sigarlaki - Simbar - Simbawa - Sinaulan - Singal - Sinjal - Sinombor - Singkoh - Sinolungan - Sirang - Siwu - Siwy - Solang - Solambela - Somba - Sompi - Sompotan - Sondakh - Soputan - Soriton - Sorongan - Spaer - Suak - Sualang - Suatan - Sumaiku - Sumakud - Sumakul - Sumampouw - Sumangkud - Sumanti - Sumarab - Sumarandak - Sumarauw -Sumayow - Sumele - Sumendap - Sumesei - Sumilat - Sumlang - Sumolang - Sumual - Sumuan - Sundah - Sungkudon - Suot - Supit - Surentu - Suwu

[sunting] T

Taas - Tairas - Tabiman - Talumepa - Talumewo - Talumantak - Tamaka - Tampongagoy - Tambahani - Tambalean - Tambani - Tambarici - Tamara - Tambariki - Tambayong atau Tambajong - Tambengi - Tambingon - Tamboto - Tambuntuan - Tamburian - Tambuwun - Tamon - Tampa - Tampanatu - Tampanguma - Tampemawa - Tampenawas - Tampi -Tampilang - Tampinongkol - Tangkuman - Tandayu - Tangka - Tangkere - Tangkow - Tangkudung - Tangkilisan - Tangkulung - Tangon - Tanod - Tanor - Tanos - Tarandung - Taroreh - Tarumingi - Tarumingkeng - Tatilu - Tatontos - Taulu - Tawas - Tenda - Tendean - Tengges - Tenggor - Tengker - Terok - Tetengean - Teteregoh atau Teterego - Tewal -Thomas - Thuda - Tidayoh - Tirajoh - Tirayoh - Tiendas - Tijow - Tikoalu atau Ticoalu - Tikonuwu - Tilaar - Timbuleng - Timpal - Timporog - Tinangon - Tinamberan - Tindengen - Tinggogoy - Tintingon - Tirayoh - Tiwa - Tiwon - Tiwow - Toalu - Toar - Todar - Togas -Tolandang- Tololiu - Tombeng - Tombokan - Tompodung - Tompunu - Tongkotow - Tongkeles - Tooi - Torar - Toreh - Torek - Tontey - Towo - Tuda - Tuegeh - Tuela - Tuera - Tuilan - Tulandi - Tular - Tulenan - Tulung - Tulus - Tulusan - Tumanduk - Tumangkeng - Tumatar - Tumbei - Tumbel - Tumbelaka - Tumbol - Tumbuan - Tumembouw - Tumengkol - Tumewu - Tumilaar - Tumilesar - Tumimomor - Tumion - Tumiwa - Tumiwang - Tumober - Tumondo – Tumonggor - Tumundo - Tumurang - Tumuyu - Tunas - Tundalangi - Tungka - Turang - Turangan - Tuuk - Tuwaidan - Tuwo - Tuyu - Tuyuwale - Tulangouw - Tombey - Terry-tu - Tumilantow - Tumilantou

[sunting] U

Uguy - Ukus - Ulaan - Umbas - Umboh - Umpel - Undap - Unsulangi - Untu - Ulus

[sunting] V

Voerman - Van Duim - Van Diest

[sunting] W

Waani - Wagei - Wagey - Wagiu - Waha - Wahon - Watania - Wakari - Wala - Walalangi - Walanda - Walandouw - Walangitan - Walean - Walebangko - Walensendow - Walewangko - Walelang - Waleleng - Walian - Walintukan - Walukow - Waluyan - Warouw - Wanei - Wangania - Wangkar - Wangke - Wangko - Wantah - Wantania - Wantasen - Wariki - Watah - Watti - Watugigir - Watulangkouw - Watuna - Watung - Watupongoh - Waturandang - Watuseke - Wauran - Wawoh - Wawointama - Wawolangi - Wawolumaya - Waworuntu - Wehantouw - Weku - Weley - Welong - Wenas - Wensen - Wenur - Weol - Wetik - Wewengkang - Wilar - Winerungan - Winokan - Woimbon - Wokas - Wola (Wollah) - Wondal - Wongkar - Wonok - Wonte - Wooy - Worang - Worotikan - Wotulo - Wowilang - Wowiling - Wowor - Wuaten - Wuisan - Wuisang - Wulung - Wulur - Wungkana - Wungow - Wuntu - Wurangian - Wuwung -